Part 1
“Barakallah fii umrik, selamat
mengaminkan doa-doa baik yah. Miss you so bad, dear.”
Begitu tulisanku dalam selembar
kertas cokelat yang kusobek dari buku diary-ku. Kuhitung, sudah lima kali kutulis
ucapan itu tanpa pernah mengirimkannya kepadanya. Terasa nyeri, namun ini satu
satunya caraku.
---
Tahun terakhir di SMA ku habiskan
untuk mendalami materi ujian masuk perguruan tinggi negeri. Jika kebanyakan
anak SMA menggunakan waktunya untuk mencari jati dirinya dengan mencoba hal hal
baru, aku memilih untuk mendengarkan lagu favoritku sambil menatap ribuan kata
yang kuharap dapat membantuku menjawab pertanyaan ujian masuk PTN esok.
Sebuah kisah memilukan untuk
kuceritakan sebenarnya. Bahwa akupun ingin menikmati waktu seperti mereka, hang
out sesekali bersama teman, namun jika kulakukan, ternyata itu hanya makin
menyiksaku. Selama lima tahun terakhir, aku hanya punya satu orang teman yang
aku percaya, yang benar benar ku anggap sahabatku. Husnul, namanya. Sayang,
kami harus terpisah ketika masuk SMA. Ayahnya tak mampu membiayai sekolahnya
untuk masuk ke SMA, sehingga terpaksa ia harus bekerja selepas lulus dari SMP. Aku
tak bisa melakukan apapun, karena kondisi keluargaku saat itu juga sedang
sulit. Aku merasa menjadi teman yang tak berguna baginya, dan kondisi itu
membuatku merasa bersalah.
Sejak kami tidak pernah lagi bertemu,
aku tak pernah lagi bercerita kepada siapapun. Aku tak lagi bercerita dan
tertawa seperti hari hari sebelumnya pada Husnul, karena ia juga lelah banting
tulang. Tak mungkin rasanya aku mengganggu waktu malamnya dengan cerita cerita
konyolku yangtak bermanfaat baginya. Aku hanya berkirim SMS sesekali, sekadar
untuk bertanya kabarnya. Keadaan ini membuatku bosan, dan aku berjanji untuk
mencoba menjadi seorang ekstrovert kelak jika aku diterima pada perguruan
tinggi negeri. Kutulis nadzarku di secarik kertas kemudian kutempelkan di atas
meja belajarku.
---
Beberapa hari setelah pengumuman
kelulusan, aku menantikan pengumuman ujianku untuk dapat kuliah di PTN. Dan syukur
atas karuniaNya, aku tembus. Mama papaku begitu senang mendengarnya, lebih
dariku. Namun yang jadi persoalan adalah, itu bukan jurusan yang aku inginkan
sebenarnya. Aku menginginkan masuk psikologi dan kujadikan pilihan pertama,
sedangkan jurusan kedua adalah hubungan internasional yang merupakan permintaan
orang tuaku. aku hanya sendiko dhawuh, dan ternyata Ridlo mereka yang membawaku
di titik itu.
Namun apapun jurusannya, aku harus
tetap melaksanakan nadzarku. Ya, aku harus mengubah kebiasaanku untuk menolak
diskusi, aku akan membiasakan bertemu dan aktif dalam kegiatan yang akan
membawaku memiliki banyak teman. Hari pertama, aku hanya bisa menangis. Aku merasa
aku salah bernadzar. menyapa orang orang bukanlah kebiasaanku. Bahkan, aku
hanya tersenyum hanya jika mereka memberikan senyumannya terlebih dahulu. Pun kadang
aku lebih memilih berlalu tanpa memandang siappaun yang kulalui.
Hampir satu bulan kucoba untuk terus
berbenah diri, mencoba aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa Paduan Suara Mahasiswa.
Kupilih UKM tersebut karena kupikir aku suka menyanyi dan aku tidak tertarik di
UKM yang lain. Setahun menjadi junior di UKM ini, aku terpilih menjadi bagian
dari grup paduan suara untuk wisuda dan mengikuti beberapa perlombaan tingkat
nasional.
Seperti yang kulakukan dari dulu,
aku sulit untuk dapat akrab dengan banyak orang, namun aku hanya sekadar
mengenal, ngobrol dan sudah. Setahun di paduan suara memberiku banyak
pengalaman, dan empat orang teman. Awal mulanya, aku hanya akrab dengan Nesy,
karena kebetulan kami memiliki hobby yang sama, yaitu memanah. Gadis berjilbab
ini memang sudah jago memanah sejak SMP. Aku merasa senang dapat belajar banyak
darinya. Dari Nesy, aku tak hanya belajar tentang panahan, namun aku juga
belajar banyak hal, hidup. Saat kebanyakan orang dapat melepas lelah di rumahnya
masing-masing, ia masih harus mendengar pertengkaran hebat di rumahnya, melihat
pecahan gelas dan tangisan ibunya. Dia berasal dari keluarga yang broken home,
namun ia dapat tetap menjadi perempuan hebat. Bahkan aku pun tak pernah
menyangka, dia memiliki latar belakang yang begitu memilukan. Aku dapat
memeberikian dua jempolku sekaligus untuknya, karena hampir anak anak dari
keluarga broken home akan menjadikan dunia hitam sebagai pelariannya. Namun tidak
bagi Nesy.
Nesy sangat dikenal oleh anak
anak PSM meskipun ia mengikuti UKM Olahraga, karena ia sering menungguku untuk
sekadar pulang bersama selepas latihan paduan suara. Sikapnya yang hangat,
ramah dan lembut itu membuat ketua UKM ku sampai nembak dia he he he. Namun, ia
memiliki prinsip untuk tidak akan membina hubungan lebih dari teman atau
sahabat. Prinsip yang tak dapat tergoyahkan, sekalipun yang naksir dia adalah
orang yang bisa dibilang wow di kampusku. Siapa yang tak mengenal kak Arfan,
ketua PSM yang sekaligus Ketua BEM uninversitasku. Arfan menjadi dekat dengan
kami sejak kami dipersatukan dalam sebuah event kampus. Dia banyak
mengarahkanku, memberikanku motivasi saat aku benar benar lelah memepersiapkan
event itu. Maklum, aku bertanggung jawab pada sponsorship. Dan yah, aku tak
ahli dalam hal tersebut, namun di luar dugaanku, dengan modal nekad dan
motivasi terus menerus dari kak Arfan, aku dapat mengumpulkan dana untuk
menutup defisit. Sebagai apresiasi atas kesuksesanku, dia mengajakku untuk
makan bersama semua panitia. Satu hal yang dapat kuucapkan adalah
Alhamdulillah. Baru kali ini aku merasa berkontribusi dalam sebuah event. Kak
Arfan, ia yang terus memberiku semangat, memberikanku nasihat begini begitu,
tanpa sikap untuk menggurui.
Beberapa hari sejak aku disibukkan
oleh event tahunan kampus, aku jarang bertemu Nesy. Ia juga tengah repot
mengajukan proposal skripsinya. Suatu sore, aku memilih untuk menghabiskan waktu
bersamanya seperti biasanya, namun aku tak menyangka kalau dia akan menyatakan
hal itu.
To be continue---
Komentar
Posting Komentar