Sebuah Malam

Sunyi.
Membuat semuanya terasa nikmat, dalam ketenangan lahir bathin. Malam. Adalah saat untuk bermuhasabah diri, bagiku. Malam yang setia mengingatkan tentang apa yang telah ku perbuat dari pagi hingga
berakhirnya hari.
http://www.amanahsedekah.com/2016/02/keutamaan-sujud-bagi-wanita-wanita.html

Saat malam tiba, seolah baru kusadari bahwa waktu berlalu begitu cepatnya, tak terasa, dan semakin cepat setiap harinya. Telah sepertiga dari hidup kulalui (usia hidup Rasulullah kurang lebih 64 tahun). Kita sama sama hidup, iya sama hanya berbeda sedikit dengan Sang Kekasih Allah. Ya, Rasulullah sedikit makan, sedangkan kita sedikit sedikit  makan. Hanya sedikit kan bedanya? Aku sedikit bersyukur, sedangkan Rasulullah itu sedikit sedikit bersyukur. Bedanya hanya sedikit, namun itulah ciri khas manusia pilihan Allah. Subhanallah.
Sobat, rasanya masih teringat jelas malam itu. Saat dimana mama mengajarkanku doa sebelum tidur di kala aku belum mengenal satupun huruf hijaiyah. Ah, tiba tiba saja ku merindukannya, sangat. Kadang saat bertubi-tubi masalah menerpaku, ingin rasanya kembali ke masa kecil itu, adalah saat senyum simetris tak pernah alpa kusedekahkan setiap harinya. Ya, senyum yang begitu tulus, tanpa beban sedikitpun. Hehe. Tak apalah kulakukan demikian. Hanya untuk mengingat kelucuan di masa itu. Kadang dengan mengingat masa kecil, mimpi mimpi dulu, dan semua kenangannya membuat ku menangis lalu menyadari siapa diriku kini, lalu aku pun bangkit kembali. Sadar sesadar sadarnya bahwa Allah lah yang menempaku dengan semua problema ini. Aku yang rapuh, hanya akan kuat karenaNya.
Masih tentang malam, hal yang tak boleh terlupa adalah bermanja-manja denganNya. Ada rasa sesal saat malam berlalu sedang diri melewatkannya tanpa bercengkerama denganNya. Saat saat terakhir, saat dimana kebanyakan mata berada dalam nikmat sementara (baca:tidur). Adalah sebuah nikmat yang dapat membuat manusia terlupa. Meskipun segala kewajiban yang terlupa saat kita tidur akan diampuni, namun apa iya tiada rasa kecewa karena melewatkannya? Meski hanya ibadah sunnah, baik tahajud ataupun dhuha, ku umpamakan saja sebagai pelengkap nutrisi. Ibarat makan, maka ibadah sunnah itulah susunya. Agar jadilah empat sehat lima sempurna, maka jangan hanya tunaikan kewajiban, namun juga tambah dengan sunnahnya.
Aku belajar, bahwa ilmu itu di atas amal, sedangkan akhlak diatas ilmu. Maka tugasku adalah memperbaiki akhlak, sembari terus menimba ilmu, dan berusaha mengamalkannya. Begitukah urutan yang patut? Insha Allah demikian. Susah? Sangat. Namun kawan, diatas semua itu, aku menyadari bahwa bila esok Allah perkenanku berada di surgaNya, itu hanyalah karena Rahmat Allah, bukan karena beratnya timbangan amalku. Maka tak akan patut bila diri merasa cukup dengan amalan amalan yang telah dilakukan. Sungguh tidak pantas.
.
.
.
Ya Rabbi, tambatan hati,
Engkaulah seagung agungnya Pencipta, Dzat yang Maha pengasih
Sungguh, dosa yang ku punya terus bertambah, sedang usiaku terus berkurang.
Masih berkenankah Engkau menemuiku sedang akulah seburuk buruknya manusia?
Bagaimana caraku menatapMu dengan amal yang cacat  sedang nikmatMu begitu sempurna, wahai Pemilik Jiwa?
Ya Illahi Rabbii, ku mohon jangan sekalipun Engkau tinggalkan aku meski diri semakin jauh, keruh
Tak mau akulah aku jadi makhluk paling nelangsa
Sungguh, Adakah kesedihan yang lebih buruk daripada ditinggalkanMu?
Kumohon sedikit ilmu dariMu Ya ‘Alim,
Kumohon sedikit rizqi dariMu Ya Razzaq
Kumohon sedikit kebaikan dariMu Rabb alam semesta, meski hanya keburukan yang terus diri persembahkan.
.
.
.
_Goresan pena wanita yang ingin menjadi shalihah_



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jangan Bersedih, Tunggulah Jalan Keluar!